Ketika kau berjanji untuk mencintai
Seorang sosok yang sholih hatimu tak lagi perih
Seorang sosok yang sholehah dengan asa penuh berkah
Ada rasa bahagia yang tertuang dalam asa
Hidupmu terasa sempurna larut dalam jutaan warna
Tapi akan ada banyak batu dan terjal
Tantangan menghampiri dimana pilihan diuji
Benarkah itu pilihan Illahi atau hanya larut dalam emosi
Maka mencintai bukan hanya tentang mengerti
tapi juga bagaimana memahami
Bahwa adalah pilihan untuk mencintai
Tapi kesetiaan adalah bukti
Bahwa itulah janji
Mencintai karena Illahi
Barakallahu laka wa baraka'alaika wa jama'a baynakumaa fii khaiir
. . .
Bandung, 8 Oktober 2011
-Cg&L-
. . .
NB: Syukran Jazakumullah kepada Mbak Noviyan Damayanti dan suami serta Pak Riza dan istri karena sudah mengawal prosesnya dari awal, Tita Salafiyah J dan Kak Ramdhan Rabbani atas rekomendasinya, Bu Hanny S. Dulimarta dan keluarga atas kado dan puisinya serta sudah melanjutkan mengawal proses hingga akhir, dan semua pihak yang sudah membantu. Terima kasih. \(^o^)/
Dengar!
Kata mereka dia itu orang yang ekstrovert
Karena kata mereka, dia itu sangat terbuka kepada siapapun
Bercerita tentang berbagai hal
Mengekspresikan segala sesuatu yang dirasakan
Heyy!!!
Kata mereka, dia itu orang yang ceria
Selalu semangat dan tak pernah bersedih
Tahukah!
Orang ekstrovert itu sebenarnya introvert
Yang dikeluarkan itu hanya sampah!
Yang lainnya disimpan dalam hati
Agar jangan sampai orang lain tahu yang sebenarnya
Tahukah!
Orang ceria itu tak bisa menampakkan kesedihannya di depan orang lain
Karena dia tak ingin orang lain tahu dan ikut bersedih dengannya
Tahukah!
Bahwa itu semua topeng!
Karena dia harus berdiri tegar di atas kerapuhannya . . .
. . .
Bandung, 22 Desember 2010
22:44 WIB
-karena dia bukan malaikat yang selamanya bisa bertahan untuk tetap tegar di atas kerapuhan-
Belum pernah saya ngerasa ga PD yg amat sangat kecuali hari ini!
Ternyata hari ini semua ego dan arogansi saya runtuh!
Hari ini ternyata saya semakin sadar bahwa masih banyak hal yang tidak saya ketahui. Masih banyak hal yang harus saya pelajari. Dan ternyata ilmu yang saya punya ga ada seujung kuku semut sekalipun. Hehehe..
yang pasti mulai hari ini saya punya PR besar dan banyak! saya harus belajar, belajar dan belajar terus. Belajar untuk Memperbaiki diri dan memperbanyak ilmu. :D
dan yang paling penting dari hari ini adalah saya akhirnya bisa melewati hari ini dengan perasaan yg Plong! Lega rasanya sudah bisa melewati hari ini. :D
whatever the result, Let Allah decides the best for me.
Heuheu, harus semangat! Never give up for everything! Never ending spirit. Coz innallaha ma'anaa... ^^v
-always HAPPY, always SMILE, always POSITIVE-
. . .
Jakarta, 12 Juni 2011
23:39
"Today is mine! :D"
Baru baca tulisan lama ini dari blognya salah satu Geng Lebay "Miftahul 'Pipichan' Hidayah"...
Senyum-senyum sendiri pas bacanya, jadi inget soalnya waktu dulu ribetnya gimana pas kejadian berlangsung. Ga ribet seharusnya tapi jadinya jelimet! Nyiapin acara syukuran wisuda dan perpisahan buat si Lebay Muda "Hadi Teguh Yudistira" dan Boss Galak "Hendra Adi Putra" dan salah satu anak Wirakreasi "Andika Asyuda" yang bakal langsung cabut ke negeri orang pada saat itu. Malahan Hadi pergi ga tanggung-tangung lamanya, 15 tahun! bukan waktu yang bentar untuk berkelana.. (heuheu ini bahasanya lebay banget)
Dan baru-baru ini saya mengalaminya lagi di "dunia birokrasi" yang sebenarnya... ribet, jelimet dan bikin pusinggg.. hehehehe,,, Birokrasi emang harus Dipangkas jadi lebih ringkas!!!! Biar ga bikin ribetttt dan pusiiing!!!! ^^v
...
B I R O K R A S I
(taken from : http://lariajamift.wordpress.com/2008/08/05/birokrasi/)
Agustus 5, 2008.
Jangan berharap banyak dari judul diatas, bahwa saya akan serius membahas birokrasi Indonesia. Cuma mau berbagi cerita, yang namanya birokrasi super ribet dari sepenggal cerita saat kongkow syukuran wisuda beberapa orang teman di KBL Minggu sore. Syukwis Hadi yang akan meninggalkan Indonesia selama 15 tahun, terbang ke Korea sampe post doc dan mungkin ampe jadi profesor disana, huehue… Bos Hendra yang akan ke Belgia buat training dari perusahaannya. Dan satu laginya Dhika anak Acara OSKM 2006.
Studio 1 KBL lantai 2. Disana ada Anni, The Ninda, Nisa, Nina, Saya, Abas, Hadi, Dimas, Hendra, sapa lagi ya?
Masing-masing duduk-duduk dan ngobrol dengan pasangan bicaranya masing-masing. Ada juga yang ngotak-ngatik laptop. Bikin slide tuh. Abas bertanya kepada semua orang di studio 1, sehingga semua aktivitas studio 1 terhenti. “Kabelnya Cuma satu nih? Kabel power supplynya ada ga?”. Saya yang membawa infokus dari sekre Mata angkat bicara, “Ga tau Bas. Tadi disana ga ada apa-apa selain infokus itu”. “Telfon Rohmad aja! Ada yang punya nomor AS g?”. Di telfon lah Rohmad.
Trrriiiit… HP saya : Cegi memanggil
“Assalamualaikum. Cegi, dimana?”
“Disono ada siapa aja pi?”
“udah banyak, tinggal nunggu kalian”
“Ani hayu buruan”, terdengar suara “iya iya” dari seberang sana
“Cegi, bawain rol kabel ama sekalian ke sekre Mata, cariin kabel power supply.”
“Yah,pi. Udah dijalan”
“Bo’ong, di jalan mana? jalan kanayakan kan?”
“hahahaha… telfon Rohmad aja”
“Udah di telpon. Ntar mau nelfon Ndro dulu. Rohmadnya lagi di Semarang”
“Ooo… iya iya”
Tapi kita belum sempet menelfon Hendro. Masih nyari-nyari HP esia berpulsa.
Triiiitttt………….. HP Hadi : cegi memanggil
“Assalamualaikum. Hadi, ntar kalo Bobby nelfon Pipi, bilangin Bobby suruh nelfon Hadi aja ya”
“Oh, iya iya. Jadi kalo Bobby nelfon Pipi, bilangin ke Bobby telfon Hadi aja?”. Cegi mengiyakan. Kemudian Hadi menyampaikan pesan Cegi, “Pi, kata cegi kalo Bobby nelfon, suruh nelfon…”. Belum lagi Hadi selesai ngomong, HP saya : Bobby memanggil…
“Assalamualaikum Bob, kata cegi, kalo Bobby nelfon saya, disuruh bilang ke Bobby, telfon Hadi aja”
“Hah? Maksudnya apaan?”
“Iya, kata cegi, kalo Bobby nelfon saya, disuruh bilang ke Bobby, telfon Hadi aja. (saya udah cengar-cengir sambil diliatin ama semua orang di studio 1. Yang lain juga cengar-cengir ngeliat keanehan yang terjadi antar studio). Ya udah, ya udah, tadi Bobby nelfon mau ngomong apa?”
“Gini, kabel power supplynya di bawain Hendro bentar lagi.”
“Oh, iya Bob”
Kata Bobby ntar kabelnya di bawain Hendro kesini, kataku ke semuanya.
Ealah….. ribet banget si. Dasar birokrasi!
Studio 2 Kamar Ani, Jalan Raya. Cegi dan Ani sedang burning CD kemudian pergi berkendara motor. Cegi tampak menelfon beberapa orang memastikan keadaan dan logistik.
“Assalamualaikum Bobby. Kabel power supply infokus dimana?”
Perbincangan cegi dan bobby berlangsung bersamaan dengan perbincangan Abas di studio 1 dengan Rohmad di studio 4.
Studio 3 Rumah Bobby
“Waalaikumsalam. Ga ada? Ntar saya telfon hendro dulu”
“Bob, ntar telfon Pipi aja. Aku lagi di jalan”, begitu lah kira-kira perbincangan antara Cegi dan Bobby dari studio masing-masing
Studio 4 Rumah Rohmad
“Assalamualaikum. Mad, kabel power supply infokuse nang endi?”
“Waalaikumsalam. Wah, aku masih ning Semarang iki, Bas. Teko’i Ndro wae”
Studio 5 Lokasi Hendro
“Waalaikumsalam, Bob. Ga ada? Ya udah, ane ke KBL sekarang”.
Kira-kira begitulah Hendro berbicara ketika Bobby menanyakan kabel power supply yang tidak ditemukan dalam tas infokus.
Jadi biang keroknya siapa neh? Hahahaha… Ribeeeeeeeeeeettttttttttt……………..
Hahahaha…
Jangan ribet-ribet, kita PANGKAS BIROKRASI! Biar ga ribet-ribet
Nak seperti para birokrat kali pun! Hahahahahaha….
. . .
Jakarta, 20 Juni 2011
15:14 WIB
@Jln. Percetakan Negara No.23, Gedung C Lantai 3
-Cegi yang baru-baru ini merasakan ribetnya dan muter-muternya jalur Birokrasi di Indonesia-
“... ini hidup wanita si kupu-kupu malam bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
bibir senyum kata halus merayu memanja
kepada setiap mereka yg datang...”
(Kupu-kupu Malam, Titik Puspa)
. . .
Sudah lama saya tidak pernah lagi jalan keluar di malam hari untuk berburu makanan (wisata kuliner), apalagi setelah pindah ke Jakarta. Hardly ever! Hehehe, padahal dulu pas masih di Bandung sering banget keluar malem buat hunting makanan enak (wisata kuliner) naik motor keliling Bandung sama sohib tercinta “Ani”. Pokonya tempatnya dimanapun, kalau lagi ingin banget itu makanan dan kita berdua lagi ada uang lebih, bakal dijabanin lah itu tempat demi memenuhi keinginan dan rasa penasaran. Hehehe.. Tapi itu dulu. Jadi kangen motor-motoran dibonceng Ani, keliling Bandung main dan nyoba-nyoba makanan enak. Hmmmmm, yummyyy! Apalagi Bandung itu tempat wisata kuliner enaknya buanyaaaaakkk banget. Ga ada habisnya dah! :D
Tapi itu dulu, pas saya masih di Bandung. Pas udah di Jakarta mah, hmmmm... ya ya ya, mobilitas cuma kosan-kantor-kosan. Hehehe, bosan. Lagian siapa juga di sini yang bisa diajak keluar malam dan hunting makanan enak (wisata kuliner) di Jakarta. Sampai akhirnya saya menemukan seorang teman kosan, kebetulan satu kantor dan hobi juga wisata kuliner. Dan yang paling penting anaknya asik buat diajak jalan bareng dan ga malu kalo diajak makan di pinggir jalan. Hehehe... :D
Nah, Beberapa hari yang lalu saya mengantar Mbak Nila beli buah durian. Kebetulan malam itu Mbak Nila lagi ingin masak Bubur Jagung Manis Durian, jadilah saat itu kami melesat ke luar rumah untuk berburu jagung manis dan buah durian. Tempat yang dituju saat itu untuk berburu durian adalah sepanjang jalan Jatinegara yang dekat dengan LP Cipinang. Konon kata sepupunya Mbak Nila di sana duriannya enak-enak dan murah. Mulai dari durian montong sampai durian Sumatera dijual di sana. Yups, di malam hari di sepanjang pinggir jalan jatinegara itu banyak yang jual durian dengan pilihan yang beragam dan harga yang relatif terjangkau. Dan yang paling enak di sana juga disediakan tempat ala kadarnya bagi para pembeli durian yang ingin langsung makan duriannya di sana. Makan durian di pinggir jalan malam-malam, anyep-anyep, remang-remang diterangi cahaya bulan. Asik dah.. ;p
Selama perjalanan menuju ke TKP, saya dan Mbak Nila tentu saja berbincang-bincang, setidaknya untuk mengurangi kebosanan dan rasa kantuk ketika sedang mengemudi motor (dan tentu saja Mbak Nila yang bawa motornya, Cegi yang diboncengnya! ;p). Sambil melihat keadaan sekeliling jalan, saya pun mulai tersadarkan. Sepertinya dari tadi di sepanjang pinggir jalan jatinegara banyak kios obat. Dan setelah saya amati lebih dekat ternyata eh ternyata itu kios obatnya bukan sembarang kios obat, kawan! Itu kios obat yang mostly obat yang dijualnya adalah obat kuat! Obat kuat untuk lelaki tentu saja. Selain obat kuat dijual juga perlengkapan-perlengkapan pendukung seperti kondom dan lain-lainnya. Walupun memang selain produk-produk itu juga dijual obat lain untuk penyakit-penyakit umum dan wajar seperti obat pilek, demam, batuk. Tapi itu jumlahnya hanya sebagian kecil saja. Mostly yang dijual itu ya produk-produk yang “begitu”. Obat kuat lelaki dan perlengkapan-perlengkapan untuk supporting system nya. Hehehe.. (Memang PR yang harus dikerjakan oleh institusi tempat saya bekerja masih banyak yang belum diselesaikan dan perlu dicamkan juga bahwa mengawasi peredaran obat-obatan di negeri ini bukanlah hal yang mudah, kawan! ^^v)
Dan saat itu yang bikin saya bertanya-tanya adalah kenapa begitu banyak terdapat kios-kios obat seperti itu di sepanjang jalan jatinegara ini?!?!? Ada apa? Jakarta memang aneh! Perasaan di Bandung mah ga ada da. Atau saya yang belum tahu ya di Bandung juga ada kios-kios obat seperti itu yang buka khusus pada waktu malam hari. :D. Belum lagi pertanyaan saya terjawab, kembali saya dihadapkan dengan keanehan-keanehan lain. Kok di sepanjang jalan jatinegara ini ada banyak perempuan pada berdiri di pinggir jalan? Lagi pada nungguin temannya jemput kah? Tapi kok dengan pakaian yang pendek-pendek (rok pendek, celana pendek) ya? Ga dingin gitu?!?! Kan ini malam hari! Hehehehe,dasar ABG jaman sekarang! Pikirku saat itu. Sampai akhirnya saya sadar kalau mereka juga bukan ABG bisaa. Dan beneran baru sadar ketika melihat salah seorang perempuan yang berdiri di pinggir jalan itu melambaikan tangannya untuk menyetop kendaraan yang lewat di depannya, dan pada saat itu ada seorang pengendara motor yang menghampiri dan mendekatinya lalu mereka pun larut berbincang di tepi jalan raya. Hooo… ternyata mereka itu kupu-kupu malam rupanya. Pantesaaann.. ;p
. . .
Ngerti lah saya saat itu, pantesan dari tadi di sepanjang jalan ada banyak kios-kios obat begituan. Dan setelah tempat kios-kios itu ternyata ada banyak perempuan muda menjajakan dirinya di pinggir jalan. Widiwww! Ibukota ternyata lebih seram daripada Kota Bandung di malam hari. Aktivitasnya lebih ganasss! Hehehe..
Kadang suka kepikiran apa alasan mereka mau melakukan pekerjaan seperti itu? Pekerjaan yang merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Makhluk Tuhan yang kedudukannya mulia dan dimuliakan. Mungkin iya memang mereka melakukan itu karena dorongan kebutuhan ekonomi. Tapi apakah memang tidak ada pekerjaan lain lagi yang bisa mereka lakukan selain menjajakan dirinya kepada orang lain? Atau mereka melakukan itu karena mereka belum paham bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang dilarang agama?!?!?! Atau ada alasan lain lagi kah?
Hmmm.. Jadi teringat ketika dahulu bersama teman-teman Sobat Bolang sempat kepikiran dan merencanakan untuk bikin acara pengajian dan pembinaan di kawasan Saritem Bandung (Kawasan yang sudah dikenal sebagai tempat para WTS menjajakan dirinya) tapi terhalang berbagai hal kendala. Pada saat itu kami (Sobat Bolang) berpikir bahwa solusi untuk mereka adalah penyadaran melalui pembinaan agama dan memberikan pembinaan/pelatihan skill/kemampuan agar mereka bisa bekerja mandiri dengan pekerjaan yang lebih terhormat. Tapi apa daya, programnya belum bisa terealisasikan. :D
. . .
Jakarta, 15 Juli 2011
15:56 WIB
@Jalan Percetakan Negara No.23, Gedung C lantai 3
-hari Jumat sore sesaat sebelum jam pulang kantor-
Hey kawan dengar lagu ini Percaya mimpi dalam hati Jangan kau takut dan berhenti Jadilah pemberani Nyanyikan lagu ini
Kejarlah semua mimpimu Percaya suara hatimu Hey kawan lihatlah ke depan Disana harapan terbentang Jangan pernah takut berjuang Jadilah pemberani
Lirik Lagu Ashilla - Rolling (Ost Garuda Di Dadaku)
. . .
Untuk kalian wahai jiwa-jiwa yang pemberani! Jadi inget pas OSKM dulu Danlapnya bilang "Sangkar besi tidak akan mengubah burung rajawali menjadi burung nuri!".
Terbang terus tinggi sejauh yang kita bisa. Membawa asa dan cita yang kita genggam sedari dulu. Melewati segala tantangan dan rintangan yang ada. Tetap semangadh dan terus berkarya! See you at the top! :D
"Janganlah buru-buru untuk mendapatkan apa yang akan datang. Tidaklah bijak memetik buah sebelum matang. (Aidh Al Qarni).
Semua butuh proses. Semua ada tahapannya. Semoga Allah sematkan KESABARAN dan SYUKUR dalam jiwa kita untuk menjalani skenario-Nya."
From: Mbak Ima BPOM
25/07/2011
03:49:45
"Subhanallah, Mba Ima. Jlebb! Kebetulan, lagi ngena banget tuh ma aku! hehehe.. Syukran Jzk, Mba. :D"
From: CG
25/07/2011
03:53:21
"afwan, sama-sama masih belajar dek. seringnya kita pengin instan.. Dan hasil pasti kurang bagus. Allah pun dalam penciptaan manusia juga melalui tahapan... *ibrah pentingnya proses*"
From: Mbak Ima BPOM
25/07/2011
03:56:49
. . .
Jakarta, 25 Juli 2011
@Gedung C Lantai 3
12:50 WIB
-Sabar dan ikhlas itu buahnya manis. :D-
Kalau ditanya berita apa yang paling menghebohkan masyarakat Indonesia di pekan-pekan ini?!?!? Jawabannya tentu saja, Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia.
Betapa tidak, setelah sekian lama gersang akan prestasi, kali ini Timnas Indonesia kembali mencuat dengan keberhasilannya menembus laga final Piala AFF 2010.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih Timnas Indonesia sejak babak penyisihan grup hingga babak semifinal benar-benar membawa kebahagian dan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia di seantero negeri bahkan yang sedang berada di penjuru dunia.
Setelah sebelumnya bangsa ini banyak dirundung masalah, banyak berita negatif yang melanda Indonesia yang dikabarkan di berbagai media massa. Bencana alam, kasus korupsi yang tak kunjung selesai, kasus pornografi yang merajalela, pertikaian politik yang tak pernah padam, kasus penyiksaan TKW dan penelantaran TKI di luar negeri, wacana pencabutan subsidi BBM, para anggota DPR yang sering bikin ulah dan tidak peka dengan kondisi negeri, RUU Daerah Istimewa Yogyakarta yang sempat bikin heboh, dan masih banyak lagi permasalahan di negeri ini yang belum terselesaikan. Sudah terlalu sering masyarakat Indonesia mengalami kenyataan pahit tentang negerinya sendiri.
Sampai pada akhirnya muncul lah berita tentang kemenangan Timnas Indonesia di laga Piala AFF 2010 membawa angin segar bagi bangsa Indonesia yang sudah enek dan muak dengan segala permasalahan negeri yang belum terselesaikan. Euforia sesaat ini memberi kebahagiaan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk berhenti sejenak melepas segala penat dari masalah yang tak kunjung selesai. Meluapkan kegembiraan dan kebanggaan yang sangat luar biasa, menyimpan harapan bahwa ternyata Bangsa Indonesia ini masih bisa mengukir prestasi di kancah internasional. Bahwa bangsa ini akan bangkit dari segala keterpurukannya.
. . .
Maka tak heran, ketika kemenangan demi kemenangan diraih Timnas Indonesia, menjadikan mereka pahlawan baru yang dielu-elukan dan diidolakan masyarakat Indonesia. Muncul berita tentang kemenangan Timnas Indonesia dimana-mana. Di media cetak maupun elektronik, Timnas Indonesia bak selebriti yang menjadi incaran panas para pencari berita.
Begitu banyak pujian, begitu besar dukungan, dan begitu banyak harapan yang dilontarkan untuk Timnas Indonesia. Karena bangsa ini menaruh harapan besar kepada mereka, menaruh harapan bahwa Timnas Indonesia akan memberi kabar bahagia lagi untuk bangsa ini. Bahwa Timnas Indonesia menjadi pelipur lara bagi masyarakat yang sedang terluka dengan kondisi negeri yang sedang penuh polemik.
. . .
Hingga tiba laga puncak Piala AFF 2010, Timnas Indonesia bisa melaju hingga babak final dengan lawannya yaitu negara tetangga “Malaysia”.
Dengan sistem pertandingan “home and away” alias laga kandang dan tandang, Timnas Indonesia harus menghadapi tim Malaysia di kandang lawan (di Bukit jalil, Malaysia) pada leg pertama dan di kandang sendiri (Gelora Bung Karno, Indonesia) pada leg kedua.
Sabtu, 26 Desember 2010 adalah dimana partai final leg pertama diselenggarakan di Bukit Jalil Malaysia. Setelah beberapa hari sebelumnya Timnas Indonesia disibukkan oleh berbagai kegiatan wawancara media, kunjungan undangan, istighosah, dll.
Ribuan tiket telah terjual dan bahkan ribuan masyarakat Indonesia rela bersusah payah untuk mendapatkan tiket pertandingan partai final Timnas Indonesia vs Malaysia ini. Dan bahkan tak sedikit masyarakat Indonesia yang ikut pergi ke Malaysia untuk memberi dukungan langsung kepada Timnas Indonesia pada laga final leg pertama ini. Luar biasa! Begitu besarnya respon, apresiasi, dan harapan bangsa ini terhadap Timnas Indonesia saat itu.
Tapi ternyata dalam pertandingan laga final leg pertama ini, Timnas Indonesia dikalahkan oleh malaysia dengan skor 3-0!
Ada apa dengan Timnas Indonesia saat itu?!?!?
Mereka bermain tidak sebaik seperti pertandingan sebelum-sebelumnya. Padahal ketika babak penyisihan grup, Malaysia sempat dikalahkan Timnas Indonesia dengan skor 5-1. Lantas, tapi mengapa di partai final leg pertama ini terjadi sebaliknya?
Bahkan ketika saya menonton pertandingan tersebut, saya melihat Timnas Indonesia begitu mudahnya diperdaya oleh tim lawan sehingga tim lawan dengan mudahnya memanfaatkan keuntungan untuk membuahkan 3 gol dengan memanfaatkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pemain Timnas Indonesia. Saya melihat saat itu Timnas Indonesia berada di bawah tekanan yang sangat besar dan kehilangan konsentrasinya ketika tim lawan sudah unggul dengan beberapa gol. Apa yang terjadi? Padahal di atas kertas, saat itu Timnas Indonesia lebih diunggulkan dan sedang berada di atas angin. Begitu besarnya dukungan masyarakat Indonesia, pengalaman yang pernah menang melawan tim Malaysia dengan skor telak dan kondisi tim yang sedang solid ternyata tidak menjamin Timnas Indonesia meraih kemenangan pada partai final leg pertama tersebut!
. . .
Kenapa mereka bermain tidak seluwes biasanya? Kenapa mereka terlihat tidak bisa melakukan apa-apa saat bertanding? Kenapa bisa? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu melintas di benak saya kala itu.
Lalu saya teringat pada buku yang pernah saya baca. Sebuah buku karya Makcolm Gladwell yang berjudul “What the Dog Saw”. Dalam buku tersebut ada satu artikel yang berjudul tentang ‘Seni Kegagalan’.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa manusia terkadang menyerah karena tekanan. Sebagai contoh yaitu pilot menabrakkan pesawat dan penyelam tenggelam. Di tengah kerasnya kompetisi, pemain bola basket tak bisa menemukan keranjang dan pemain golf tak bisa menemukan bola di atas pin. Ketika itu terjadi, kita bilang mereka panik atau, dalam bahasa olahraga, tercekat (choked).
Tapi apa arti kata-kata itu? Keduanya bersifat tak dikehendaki. Tercekat atau panik dianggap sama buruknya dengan berhenti bermain. Tapi apakah segala bentuk kegagalan itu sama? Dan bagaimanakah bentuk kegagalan menunjukkan seperti apa diri kita dan cara berpikir kita?
Kita hidup dalam zaman yang terobsesi dengan keberhasilan, yang mencatat berbagai cara orang-orang berbakat mengatasi tantangan dan rintangan. Tapi banyak juga yang bisa dipelajari dengan mencatat berbagai cara orang-orang berbakat terkadang gagal.
Ada yang disebut sebagai pembelajaran tersurat (explicit learning), yaitu pembelajaran yang berada di bawah alam kesadaran. Dan ada juga yang disebut sebagai pembelajaran tersirat (implicit learning) - pembelajaran yang terjadi di luar kesadaran. Pada saat terjadi pembelajaran tersurat, seseorang akan memikirkannya dengan sangat sengaja dan mekanis. Biasanya pada saat pertama kali orang belajar sesuatu dan belum mahir, orang tersebut akan Melakukan sesuatu secara berhati-hati dengan banyak pemikiran/pertimbangan dan mengikuti tepat sesuai aturan atau teori yang sudah dipelajari. Dan dilakukan di bawah kesadaran. Namun, ketika orang sudah semakin mahir, sistem pembelajaran tersirat akan mengambil alih. Orang itu akan semakin luwes dalam melakukan sesuatu yang sudah mahir. Tidak lagi berpikir lambat dalam memberi respon, tetapi sudah secara refleks dalam memberi respon. Dalam keadaan ini, naluri atau instuisi adalah yang berperan besar. Oleh karena itu, orang yang sudah mahir biasanya memiliki naluri atau instuisi yang tinggi. Dan bahkan ketika orang sudah mahir melakukan sesuatu, orang itu akan dengan mudah mengembangkan sesuatu tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Namun, dalam keadaan stress, keadaan tersurat kadang-kadang mengambil alih. Bahkan pada seseorang yang sudah mahir melakukan sesuatu, ketika sedang dalam keadaan stress bisa saja menjadi melakukan sesuatu itu seperti amatiran. Dan itulah yang disebut tercekat.
Panik adalah hal yang lain lagi. Pada saat panik, kita akan berhenti berpikir dan hanya punya naluri paling dasar. Stress menghapus ingatan jangka pendek. Orang yang berpengalaman cenderung tidak panik, karena ketika stress menghapus ingatan jangka pendek, mereka masih punya pengalaman yang bisa dimanfaatkan. Panik juga menyebabkan apa yang para ahli psikologi sebut sebgai penyempitan persepsi. Oleh karena itu orang panik jadi cenderung terfokus atau memperhatikan hanya satu hal.
Dalam pengertian itu, panik adalah kebalikan tercekat. Tercekat terjadi karena berpikir terlalu banyak. Panik terjadi karena berpikir terlalu sedikit. Tercekat adalah kehilangan naluri (instuisi). Panik adalah kembali ke naluri (instuisi). Boleh jadi kelihatannya sama, tapi keduanya sangat berbeda.
Dalam beberapa kasus, misalnya pertandingan olahraga, tidak penting apakah penyebabnya tercekat atau panik; hasilnya sama saja, Kalah!
. . .
Lalu apa yang dialami Timnas Indonesia saat laga final AFF 2010 leg pertama di Bukit Jalil, Malaysia?
Tercekat atau panik?
Timnas Indonesia saat itu mengalami apa yang disebut dengan Tercekat! Tekanan yang sangat besar untuk memenangkan pertandingan final malam itu membuat para pemain Timnas Indonesia bermain di bawah tekanan dan keadaan menjadi stress membuat mereka bermain tidak lepas dan penuh beban. Mereka bermain dengan lambat dan ‘hati-hati’ seperti pemula (amatiran). Mereka kehilangan instuisinya (nalurinya) dalam bermain bola. Sehingga permainan mereka saat itu tidak seluwes dan sebaik seperti biasanya (pertandingan-pertandingan sebelumnya). Kepekaan, respon, kecepatan, akurasi, konsentrasi dan keluwesan menjadi berkurang.
Itu pelajaran yang sulit diterima, namun yang lebih sulit lagi diterima adalah kenyataan bahwa Tercekat menuntut orang untuk tidak begitu memperhatikan pelaku dan lebih memperhatikan keadaan ketika terjadinya. Timnas Indonesia sendiri tak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah kekalahannya dari Timnas Malaysia saat itu. Satu-satunya hal yang mungkin dapat menyelamatkan Timnas Indonesia saat itu adalah apabila kamera televisi dimatikan, seluruh masyarakat Indonesia tidak begitu berlebihan dalam mengidolakan dan memperlakukan mereka, dan penonton yang ada di stadion itu disuruh pulang. Namun, tentu saja dalam pertandingan olahraga hal tersebut tidak dapat dilakukan. Tercekat adalah bagian drama pertandingan olahraga, karena penonton harus hadir - dan kemampuan mengatasi tekanan penonton adalah bagian Mental Juara.
Dan tentu saja, harga mahal (konsekuensi) yang harus dibayar oleh orang yang menjadi idola (‘pahlawan’) dan harapan orang banyak adalah beban besar (tanggung jawab besar) yang harus ditanggung!
. . .
Yang lalu biarlah berlalu! Kalah di partai final leg pertama tidak usah dijadikan kesedihan yang terus menerus. Saatnya belajar dan bangkit dari kekalahan. Masih ada kesempatan pada pertandingan final leg kedua nanti di Gelora Bung Karno. Masih ada peluang Timnas Indonesia untuk menjadi Juara di Piala AAF 2010 ini! Membuktikan pada dunia bahwa Timnas Indonesia memiliki Mental Juara yang layak untuk menang! Menjawab tantangan lawan dengan kemenangan! Dan memberi hadiah indah berupa kebahagiaan dan kemenanagan untuk bangsa Indonesia di penghujung tahun 2010 ini.
Semangat berjuang Tim Garuda Indonesia! Harapan itu masih ada!!!
. . .
Dan kami pun akan selau bernyanyi:
Garuda di dadaku
Garuda kebanggaanku
Kuyakin hari ini PASTI MENANG!
. . .
Bandung, 27 Desember 2010
21:59 WIB
-Masih Berharap dan Yakin Timnas Indonesia Bisa Menjuarai Piala AAF 2010. Karena Harapan itu Masih Ada!-
P.S. Untuk sahabatku ‘Pipi’ yang berkata setelah pertandingan malam itu berakhir “Ceg, kita ga boleh sedih karena Timnas Indonesia kalah. Karena mereka sudah cukup sedih dengan tidak bisa membahagiakan kita (bangsa Indonesia) malam ini. Kalau kita sedih, mereka akan lebih sedih. Jadi harus tetap semangat dan menyemangati mereka pada saat kalah atau menang biar mereka tetap terus semangat dalam bertanding.”
. . .
Referensi : Buku “What the Dog Saw” karya Malcolm Gladwell, hal 291-310.
Malam ini mendapat sms dari seorang sahabat: “Biarlah ALLAH yang menyemangati kita, sehingga tanpa sadar setiap peristiwa menjadi teguran kesalahan bagi kita. Cukuplah ALLAH yang memelihara ketekunan kita, karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan. Semoga ALLAH menjadikan kita pribadi yang bermakna, pribadi yang saat berbaur ia mampu menyemangati yang lain dan saat sendiri ia mampu menguatkan dirinya sendiri.”
“Semakin kita dekat dan mengenal seseorang, semakin banyak kekurangannya yang akan kita ketahui. Namun, ketika kita semakin dekat dan mengenal ALLAH, justru semakin banyak kebesaran-Nya yang akan kita temukan.”
Jadi teringat kejadian enam tahun lalu ketika pertama kali saya dinyatakan lulus menjadi mahasiswa Farmasi ITB.
Cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi seorang insinyur. Seorang insinyur yang bisa menciptakan teknologi dan mesin-mesin yang canggih, seorang insinyur yang ahli di bidang energi dan kelistrikan. Pokoknya saat saya kecil, menjadi seorang insinyur itu adalah sesuatu yang hebat! Dan saya ingin menjadi seorang insinyur! Hehehe…
Alhasil setelah lulus SMA menetapkan pilihan untuk kuliah di ITB yang kala itu memang dikenal memiliki jurusan-jurusan teknik yang unggul dan mencetak insinyur-insinyur yang hebat (heuheu.. iya gitu?!?!?! ;p).
Ketika mengikuti SPMB 2004 yang merupakan ujian seleksi nasional (jalur rakyat kebanyakan non USM! Hehehe.. ^^v) untuk masuk ke perguruan tinggi negeri, saya memilih jurusan Teknik Elektro ITB sebagai pilihan pertama dan jurusan Farmasi ITB sebagai pilihan kedua.
Memilih teknik elektro karena saat itu saya senang (bukan berarti bisa apalagi jago! Hehehe..;p) pelajaran fisika terutama bagian listrik, elktromagnet, dan kawan kawannya. Dan sesuai dengan cita-cita saya, yaitu setelah saya lulus kuliah teknik elektro maka saya akan menjadi seorang insinyur. Dan alasan yang paling penting adalah karena saya tidak tahu jurusan teknik yang lain itu seperti apa! Hehehe..
Dan memilih farmasi adalah karena itu pilihan yang dianjurkan orang tua saya saat itu. Heuheu.. padahal saat itu saya juga ga tahu farmasi itu isinya apa, belajar apa, nanti mau jadi apa. Pokoknya beneran nge-blank lah apa itu farmasi. Cuma tahu kalo farmasi itu ntar nya bakal belajar banyak ilmu kimia terapan. Padahal kenyataannya, OMG!!! Ternyata orang malas dan tidak rajin dan tidak tekun seperti saya ini harus berjuang dengan jungkir balik dan berdarah-darah untuk bisa survive kuliah di farmasi. Hehehe… Lebay! ^^v
Ternyata pas pengumuman SPMB 2004, di koran dinyatakan bahwa saya LULUS di Farmasi ITB. BUKAN di Teknik Elektro ITB. It means saya lulus di pilihan kedua.
Bersyukur?!!? Absolutely, Yes!!! Karena sudah berhasil menembus ujian SPMB dan diterima di ITB walaupun jurusannya Farmasi.
Tapi kalo ditanya, Kecewa?!!? Pastinyooo.. hehehe… Ya iya lah pastinya saat itu ada rasa kecewa di dalam hati karena gagal masuk ke jurusan impian saya sejak kecil. Gagal menjadi seorang insinyur!!!! Karena gelar seorang sarjana Farmasi saat itu bukan ST (Sarjana Teknik)! Tapi S.Si. (Sarjana Sains)!!!!
Sampai kala itu ada temen SMA saya yang menghibur dan berkata dengan santai kepada saya:
“Nyante aja lah, Cit! Not To Be but To Get laaah!!”
“You were not born to be an engineer! But you were born to be an engineer’s wife! That’s why you’re not to be but to get!“, sambil tertawa bercanda dan menghibur!
‘What?!?!!?’ Dalam hati saya kala itu! Tapi Bener juga ya?!?!!? Hehehe..
Not to be but to get! ^^v
. . .
Bandung, 4 Desember 2010
05:26 pm
@KBS 11
. . .
P.S. Ini tulisan iseng aja! Just for fun! Just remember whad my friend said to me six years ago. ^^v
Baru nemu tulisan norak yamg pernah saya buat setahun yang lalu. hehehehe... Maklum lagi Ababil (ABG Labil) waktu itu. gegege.. ;p
. . .
For Someone I Love *)
It’s not talking about
beautiful or not,
handsome or not,
wealthy or not,
having high position or not,
or whatever else!
I’m proud of you, No matter what you are or who you are…
For me, you are perfect!
I love the way you are
And I love you because I want to…
. . .
Bandung, Sept 3rd .2009
@My Lovely Bedroom
At the middle of the night
. . .
*) P.S. For Someone I Love whom I’ve not already met yet. Hehehe.. ;p