Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Kutipan - dari Buku Ranah 3 Warna



. . .

Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak.

Jarak ini bias hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bias ditempuh dalam hitungan detik, tapi bias juga puluhan tahun.

Jarak antara SUNGGUH-SUNNGUH dan SUKSES hanya bisa diisi SABAR.

Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung.
Sabar yang bias membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan seakan-akan itu sebuah keajaiban dan keberuntungan.

Padahal KEBERUNTUNGAN adalah hasil KERJA KERAS, DOA, dan SABAR yang berlebih-lebih.

[Ranah 3 Warna] 

. . .

My Friend Said (6)

" ...karena sebelum mitsaqan ghalizha, di rumah hati ini, siapa pun hanyalah tamu yang sekedar singgah..."
-mira-

My Friend Said (4)

Pejamkan mata dengan doa.
Bola dunia esok hari adalah milik kita
Tak peduli jika hari ini kau gagal/dicaci maki
Kau dan aku tetap segagah rajawali yang berhak terbang tinggi

(mengutip puisi temanku)

From: Febi TA'04
28/07/2011
22:59:01

He Said (1)

Think Fast, Deep and Take a Risk!
-L-

Senin, 22 November 2010

KUTIPAN - Dari Novel Refrain


Mengapa sangat mudah bagi seseorang untuk mengorbankan cinta demi cita-cita?

‘Karena cinta tidak ingin bertahan dalam hati dua orang yang tidak menginginkan hal yang sama. Karena jika salah satunya tidak memiliki ruang yang cukup untuk cinta, maka cinta itu akan beranjak pergi.’

(Refrain “It’s always been you...”, hal 300)

Jumat, 25 Juni 2010

LIHATLAH AWAN JANGAN LIHAT DEBU

. . .

Saudariku, jadilah engkau wanita yang bercita-cita mulia. Dan saya harap engkau selalu mengalami peningkatan, beristiqomah, dan selalu waspada dari sesuatu yang menjerumuskan dan membuatmu mundur. Ketahuilah bahwa hidup ini hanya kumpulan detik dan menit. Maka jadilah seperti semut yang selalu bersungguh-sungguh dalam usahanya. Janganlah engkau berputus asa.

Jika engkau melakukan dosa besar maka segeralah kembali pada pintu taubat, jika engkau lupa hapalan Al-Quran maka ulangilah hapalanmu. Yang penting, jangan merasa dirimu telah gagal dan mundur karena sejarah tidak akan mengenal kata akhir dan akal tidak mengakui adanya penyelesaian.

Namun, masih ada waktu untuk mengoreksi diri. Usia itu bagaikan tubuh yang bisa diubah dengan operasi. Usia itu bagaikan bangunan yang bisa direnovasi dan dikokohkan dengan semen dan beton, atau dihiasi dengan cat. Oleh karena itu, jauhilah kondisi yang membuatmu mundur. Hilangkan dari benakmu perasaan sakit, gagal, dan musibah. Allah berfirman :
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Q.S.Al-Maidah:23)

. . .

Dikutip dari buku “Agar Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia” karya Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni, MA.

KUNCI KEBAHAGIAAN TERLETAK PADA SUJUD

. . .

Saudariku, lembaran kebahagiaan pertama dalam buku catatan manusia di hari ini adalah shalat shubuh. Maka bukalah lembaran hidupmu dengan melaksanakan shalat subuh karena itulah yang akan menjadi jaminan dari Allah akan penjagaan-Nya. Dengan melakukan shalat subuh niscaya Allah akan menjagamu dari bencana, menunjukkanmu pada jalan kebaikan, dan keutamaan serta mencegahmu dari segala kehinaan.

Saudariku, ketahuilah bahwa harimu tidak akan barakah kecuali jika engkau mau memulainya dengan shalat subuh. Tidak akan ada ucapan selamat dari Allah hari yang tidak dimulai dengan shalat subuh. Karena itu adalah salah satu tanda diterimanya hidupmu dan kunci kemenangan dan kemuliaan. Akan tenang bagi mereka yang menjaga shalat subuh dan akan dilanda kesedihan bagi mereka yang melalaikan shalat subuh.

. . .

Dikutip dari buku “Agar Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia” karya Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni, MA.

AGAR MENJADI WANITA PALING BAHAGIA DI DUNIA (Prolog)

. . .

Tak sengaja Ahad malam yang lalu menemukan sebuah buku lama yang diberikan seorang teteh kepadaku. Judulnya “Agar Menjadi Wanita Paling Bahagia Di Dunia” karangan Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni, MA. Baru kuingat kalau buku itu diberikan kepadaku pada saat aku kuliah di akhir tingkat 2 atau sekitar awal tingkat 3 (aku lupa tepatnya kapan), saat itu kalau tidak salah sekitar tahun 2006. Yups, 4 tahun yang lalu! Dan ternyata aku belum membacanya sama sekali!
Akhirnya, malam itu aku pun mulai membaca buku tersebut. Dan Subhanallah, ternyata bukunya bagus! Hehehe… Banyak tulisan-tulisan yang “menampar” ku sebagai seorang wanita! Sebagai seorang muslimah lebih tepatnya! ^^v

. . .

Ini sepenggal muqadimah dari buku tersebut:

Wahai wanita yang paling bahagia dengan agama dan akhlaknya
Tanpa mutiara, tanpa kalung, dan tanpa emas
Tetapi dengan tasbih yang bagaikan pembawa kabar gembira
Bagaikan tetes hujan, bagaikan fajar;
Bagaikan pancaran cahaya dan bagaikan awan
Di dalam sujud, dalam do’a
Dalam kedekatan dengan Tuhannya
Dalam renungan di antara cahaya lauhul mahfudz dan kitab-kitab-Nya
Dalam kilatan cahaya dari Gua Hira
Dari utusan Tuhanmu pada bangsa Arab dan Romawi
Maka engkaulah wanita yang paling bahagia di dunia
Dalam hatimu yang bersih
Yang engkau suburkan dengan dekat kepada Allah

Saudariku, jalan kebahagiaanmu tersembunyi dalam wawasan dan kejernihan pengetahuanmu. Hal tersebut tidak akan didapat dengan membaca kisah-kisah romantis yang penuh khayal dan menjerumuskan, atau membaca cerita yang memberikan impian yang memabukkan. Semua itu hanya akan membuahkan kemunduran dan kesengsaraan.

Alangkah baiknya engkau membaca buku-buku yang mencerahkan, yang ditulis oleh orang-orang yang hatinya hidup dan yang mempunyai misi menyadarkan siapa saja yang membaca bukunya.

Bagaimanapun juga, tidak ada yang bisa menandingi kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-Nya dan hadits rasul-Nya serta sejarah para sahabat dan ulama yang saleh. Maka dari itu, tempuhlah jalan mereka dengan berkah dan keridhoan Allah. Niscaya engkau akan bahagia dengan apa yang engkau miliki, yaitu agama, hidayah, dan aqidah.

#Dr. Aidh Al-Qarni#

. . .

Bandung,15 Juni 2010
@My Lovely Room (KBS11)
00:37 am

Rabu, 26 Mei 2010

Pemberian Melahirkan Kepercayaan

Para pencinta sejati tidak suka berjanji.

Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi.

Setelah itu mereka bekerja dalam diam & sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap 1 rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai.

Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan

(Anis Matta:2010)

Selasa, 11 Mei 2010

DWI - Catatan Harian Seorang Dokter (Dr. Faisal Baraas)

Dia kaya raya. Perusahaannya banyak. Rumahnya seperti istana. Apapun yang diinginkannya, selalu dengan mudah dapat diraihnya. Maka perlukah orang seperti dia berdoa lagi dalam hidupnya?

PERTANYAAN itu mengagetkan dirinya. Tak seorang pun sebelumnya selama ini mengajukan pertanyaan seperti itu. Atau paling tidak, bagi lelaki itu tak ada waktu untuk memikirkannya. Ia begitu sibuk mengurus semua perusahaannya.

“Bukannya saya tidak pernah berdoa,” kata Dwi, “tapi saya begitu sibuknya bekerja sehingga tak sempat lagi berdoa.”

Yang aneh adalah pertanyaan itu diajukan oleh seorang peminta-minta yang renta dan ringkih. Secara kebetulan mereka bertemu, pada suatu malam, di sebuah perempatan jalan Jakarta, ketika lampu lalu lintas menjadi merah. Pengemis itu mengetuk kaca mobilnya dengan perlahan. Entah mengapa, tiba-tiba Dwi terpana menatapi mata pengemis itu. Ia membuka kaca jendela mobilnya dan menyodorkan selembar uang kepada pengemis itu. Tapi pengemis itu menggeleng.

“Saya kenal Anda,” kata pengemis itu tiba-tiba, sambil menyentuh bahunya. “Anda kan yang tinggal di sana?”

Alangkah kaget Dwi mendengarnya. Suatu dorongan yang amat kuat dan tidak begitu disadarinya menyebabkannya minta berhenti di pinggir jalan.

“Pulanglah,” kata Dwi kepada sopirnya, “saya nati naik taksi.”

Dwi mengejar pengemis itu sampai di sebuah gang yang sempit dan agak gelap. Pengemis itu sangat aneh di matanya dan begitu menyita rasa ingin tahunya. Ada suatu dorongan yang tidak dimengertinya sama sekali menguasai langkahnya. Dan sementara itu, ia merasa tetap sadar apa yang sedang dilakukannya itu.

Walaupun ia sudah menyamar sedemikian rupa, tanpa disertai seorang pengawal pun, hanya ditemani sopirnya, dengan mobil yang sederhana, ternyata seorang pengemis renta masih dapat mengenali dirinya.

“Janganlah main-main,” kata Dwi mencegat pengemis itu. “Anda siapa?”

“Saya hanyalah seorang pengemis. Lain dengan Anda. Saya senang ketemu anda di sini. Bagaimana kalau kita jalan-jalan berdua menyusuri gang dan rumah-rumah di sekitar sini?”

Mereka lalu berjalan beriringan, perlahan-lahan. Gang sempit, becek, dan gaduh. Rumah-rumah gedek, yang berdesak-desak, berimpitan dan sesak. Orkes dangdut dari radio yang memenuhi udara malam dan melenggang-lenggok di jalanan. Anak-anak berlarian bermain petak umpet. Pedagang makanan menyeret rombongannya, sambil sekali-kali memukuli kuali atau piring yang tergantung di sisi rombong itu. Denyut kehidupan yang keras tapi intens masih terasa sampai jauh malam.

Malam pun kian tua, penuh keringat dan kian pekat. Di langit bulan memang termenung sendirian, kadang-kadang awan menyaputi wajahnya. Angin malam menyusup selintas dan menghilang.

Bau pesing menoreh hidungnya di sepanjang gang. Perutnya mual, tapi ditahannya untuk tidak muntah. Kepalanya sedikit pusing. Dalam hidupnya, baru pertama kali inilah Dwi menyusuri gang-gang sempit di Jakarta di malam selarut itu. Ia terkesima dan tak bisa berkata-kata menyaksikan denyut kehidupan yang ditemuinya. Ia hanya melangkah mengikuti pengemis tua itu.

“Ke manakah kita pergi?” suara Dwi tersekat pelan.

“Kita hanya jalan-jalan,” jawab pengemis itu tanpa menoleh.

Mereka terus berjalan, berputar-putar.

“Alangkah kumuh dan joroknya lingkungan di sini,” piker Dwi.

Ia ingat dengan lingkungan rumahnya yang asri dan bersih. Ia terus mengikuti langkah pengemis itu. Entah mengapa, ia terus mengikutinya. Pikirannya melayang-layang. Ketika tiba di sebuah gang yang agak gelap, pengemis renta itu mempercepat langkahnya, lalu berbelok ke kanan. Dwi mengejarnya. Dan pengemis itu raib, tak tampak lagi. Dwi menoleh ke sana kemari. Tapi pengemis itu lenyap bagaikan ditelan malam. Angin malam bertiup deras sekali.

Tiba-tiba didengarnya suara bisikan yang tak jelas asalnya.

“Dalam harta yang kita raih, ada hak orang lain di dalamnya. Betapa sering kita melupakannya…”

Dwi terbangun.

Beberapa hari kemudian dia datang ke poliklinik dan menceritakan mimpinya itu.
Di status, ia mencatatkan namanya. Dwi.

Diambil dari buku: “Catatan Harian Seorang Dokter” (Dr. Faisal Baraas). Bagian ‘Catatan di Rumah Sakit’, Judul ‘Dwi’ Hal 154-156.

Minggu, 18 April 2010

Meluruskan Niat

. . .

Bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Barang siapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat maka dia akan mendapatkan tiga perkara:
- pertama, Allah menjadikan kecukupan di hatinya.
- yang kedua, Allah mengumpulkan urusannya.
- yang ketiga, dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina.
Dan barang siapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara:
- yang pertama, Allah menjadikan kemelaratan ada di depan mata.
- yang kedua, Allah mencerai-beraikan urusannya.
- yang ketiga, dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja."
[HR. At Tirmidzi, dll]

. . .

Baru dapet tadi siang dari salah satu pembicara 'Bapak Fadil Fuad Basymeleh' di acara Career Management Training (CMT) Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) di Telkom Learning Center, Bandung.

Bandung, 18 April 2010
CMT IA-ITB
"Do The Best, Share The Best!"

Selasa, 13 April 2010

Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim

. . .

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih.
Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta; rahmat bagi semesta alam.
Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi.
Telah tiba saatnya, derai berkilau Islam tak lagi terpisahkan dari pendar menawan seorang muslim.
Dan saksikan, Bahwa AKU SEORANG MUSLIM.

. . .

Diambil dari Buku 'Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim' karya Salim A. Fillah