Jumat, 25 Juni 2010

KENAPA LELAKI JAWA GA BOLEH NIKAH SAMA PEREMPUAN SUNDA?!?!?

. . .

Seperti biasanya, kalo udah pulang dari kondangan nikahan temen, pasti langsung ngobrolin hal-hal yang terkait dengan itu. Huffft! Sama halnya seperti aku dan teman-temanku ketika pulang dari acara nikahan salah seorang teman farmasi 2004 hari Sabtu 19 Juni yang lalu.

Sabtu lalu, aku dan lima temanku (dini, andin, nendi bo, jarwo, brili) kebetulan menghabiskan waktu akhir pekan bersama-sama. Ga disengaja memang, karena sebetulnya andin, jarwo dan brili sedang Kerja Praktek di KF-14 dan Nenden pun sedang bertugas menjadi apoteker PIO disana. Sedangkan aku dan Dini, datang ke KF-14 itu untuk mengambil handphone dan dompetku yang terbawa nendi bo.

Nah, karena semua berkumpul di satu tempat yang sama dan di waktu yang sama juga, makanya kami pun jadi ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari piala angkatan farmasi 2004 yang space-nya semakin berkurang, lalu posisi 20 besar pasangan FA’04 yang akan menikah, kabar istrinya jarwo yang sedang hamil, calon-calon keponakan FA’04, dll. Sampai akhirnya, kami semua menghabiskan akhir pekan dengan Kuliah Kehidupan (dibaca:pernikahan) dari MJ (Mas Jarwo, pen ^^v). Kemudian tiba-tiba di tengah-tengah pembicaraan, entah kenapa aku pun nyeletuk dan bertanya pada sahabatku, Jarwo, yang merupakan lelaki keturunan Jawa.

“Eh, Wo! Mau Tanya dong! Kenapa sih kok banyak yang bilang kalo LELAKI JAWA ga boleh nikah sama PEREMPUAN SUNDA? Sampe nenek-mu bilang dan pesen ke kamu untuk jangan sampe kecantol sama orang Bandung/Sunda? Emang ada apa sih? Jawab ya! Saya kepengen tau! Atau tulis aja jawabannya di buku saya. Biar saya bisa tau dan inget terus alasannya kenapa!”, tanyaku saat itu.

Dan ini jawaban Jarwo yang ditulis di buku-ku saat itu.

. . .

Orang Jawa say no ke cewe sunda:
1. Pengalaman tidak baik yang terjadi pada pasangan Jawa-Sunda

2. Perbedaan budaya dan cara didik antara perempuan Jawa dan Perempuan Sunda

3. Apa ya….?

Contoh teknis:
- Pengalaman buruk lebih ter-blow up

- Kendala bahasa, terutama bagi orang tua

- Perempuan jawa terkesan lebih “nerimo” dan tidak banyak menuntut, baik itu dalam hal nafkah maupun keadaan.

- Perempuan Jawa terkesan lebih bisa diboyong dan diajak membangun dari nol bersama-sama (Lebih bersifat gotong royong)

- Ada anggapan, perempuan Jawa dididik untuk terbiasa mengurus urusan rumah tangga, sedangkan perempuan Sunda cenderung dididik untuk bisa tampil cantik sehingga berpengaruh pada pemborosan (Pengeluaran menjadi lebih tinggi jika harus menghidupi istri seorang Sunda)

- Kalaupun sama-sama cantik, orang tua Jawa (kebanyakan) menilai perempuan Jawa itu dengan kata “manis/anggun”, ga neko-neko (termasuk kehalusan budi pekerti). Sedangkan perempuan Sunda ya “cantik” saja (belum dipastikan kehalusan budi pekertinya).

Yah.. lagi-lagi itu semua hanya generalisasi. Bukan harga mati, dan sangat tergantung pada individu masing-masing. Tapi, kata-kata seperti inilah gambaran/image yang terbentuk tentang Perempuan Sunda di mata Keluarga Jawa.


. . .

Itu jawaban yang ditulis Jarwo di buku-ku dan sempat dibahas juga oleh kami semua saat itu. Ada yang menerima dan ada juga yang tidak. Apapun alasannya, semua itu tergantung dari individu masing-masing. Ga boleh digeneralisasi bahwa Keluarga Jawa berpikiran seperti itu dan Keluarga Sunda juga seperti itu.

Karena pada hakikatnya, bukanlah suku bangsa yang dijadikan tolak ukur utama dalam menentukan pasangan.

“Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, atau karena agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar engkau beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, dan yang lainnya)

Seseorang dikatakan beragama apabila berakhlak mulia, sebagaimana ungkapan Rasulullah SAW dalam memberikan gambaran mengenai agama. Beliau mendefinisikan, Agama adalah akhlak yang bagus. Jadi untuk mengetahui kebaikan agama atau keislaman seseorang maka bisa dilihat dari kebaikan akhlaknya.

Pertanyaan selanjutnya dari kami pada Jarwo saat itu adalah “Wo, gimana sih caranya biar bisa dapet pasangan yang sholeh/sholehah kaya istrimu?”.

Jawaban Jarwo saat itu adalah .“Serahkan segalanya pada Allah. Karena Allah yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya”.

Yups, yang bisa kita lakukan adalah menyerahkan segala urusan (termasuk urusan ‘jodoh’) pada Allah dan berusaha untuk terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Karena sesuai dengan janji Allah dalam Al Quran:

“. . . , sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (Q.S. An-Nur:26)
. . .

Bandung, 20 Juni 2010
@My Lovely Room (KBS11)
11:23 pm

komentar dan diskusi di link ini:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=401323861740

24 komentar:

  1. teh cegiii... =)
    numpang quote:

    Karena pada hakikatnya, bukanlah suku bangsa yang dijadikan tolak ukur utama dalam menentukan pasangan.

    laikdis abis..hahaha..

    BalasHapus
  2. teh cegii..
    baru baca blog ini langsung tertarik sama topik ini..hahaha

    dan ada yang bisa dikutip:

    Karena pada hakikatnya, bukanlah suku bangsa yang dijadikan tolak ukur utama dalam menentukan pasangan.

    setujuuu!
    dan conclusionnya jg ok banget! :)

    keep on writing yah teh cegi..

    BalasHapus
  3. Hehehe... ini dulu pernah aku posting di notes facebook, leuy... tanggapan dari temen2 banyak bgd n beragam... disana lebih bnyk pendapat orang2, kalo mau liat buka aja link nya. Makasih y, Caleuy.. ^^V

    BalasHapus
  4. yg ngga boleh itu kalo cowok sunda menikah dengan pria jawa, dan cewek jawa menikah dengan wanita sunda. ok?

    BalasHapus
  5. kasian amat yah eyke...
    darahnya doank yang sunda, tapi lahirnya di kalimantan... didikannya udah beda sama orang sunda.. jauh lebih realistis! hihihi.. :p

    yang paling penting adalah agamanya.. masalah suku bangsa mah tergantung orangnya mau beradaptasi atau ga ;)

    BalasHapus
  6. Dulu sempat ga percaya dg mitos pernikahan jawa sunda yg dilarang oleh keluarga saya (jawa) & nekat menikah krn alasan agamanya, walaupun akhirnya orangtua merestui. Selang beberapa bulan menikah, ternyata benar, terdapat gap yg sgy jauh & berbeda, shg byk bersitegang. Mulai dr sifat pemalasnya, dominannya, kekikirannya. Jauh berbeda dg pasangan jawa yg ulet, rajin, mengalah, penyabar, nrimo & memperlakukan diri sendiri dg hemat namun untuk orang lain tdk pelit. Utk yg blm nikah, sebaiknya perlu berfikir ulang untuk menikah dg orang sunda, ga lelaki & perempuannya, sama saja! Bukktinys perceraian di jawa barat tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekaleee, makan hati deh kawin sm org sunda, super duper males,kikir,angkuh dan menang sendiri satu lg matre gak laki gak perempuannya, pikir tujuhribu kali sebelum menyesal

      Hapus
  7. Hampir seluruh nusantara dikuasai Majapahit, justru negara di sebelahnya, yaitu sunda galuh yg tidak bisa dikuasai. Kenapa ? Soale mereka masih sodara majapahit dan sunda) jadi majapahit gak mau nyerang sunda. Mahapatih gajahmada ttp mo memasukkan Sunda ke dalam wilayah majapahit. Alasannya untuk mempertahankan wibawa majapahit. Masak seberang lautan aja tunduk, negara kecil disebelah enggak amu tunduk. And harus dicatat bahwa hubungan majapahit dan sunda SANGAT BAIK. Keinginan Gajah mada itu mendapat tentangan sangat keras dari keluarga Kerajaan terutama kedua ibu suri (Nyokap dan tantenya hayam wuruk, dua2nya bekas Ratu majapahit).
    Akhirnya diperoleh ide brilliant untuk menikahkan hayam Wuruk dengan Putri Dyah Pitaloka (Princessnya Sunda) n Hayam wuruk setuju banget (Iyalah, Pitaloka terkenal ajib banget kecantikannya. gak heran cewek sunda terkenal cantik2, ternyata dari dulu emang udah cantik ). Dan ternyata Raja Sunda juga setuju (Iayalah dapet mantu Penguasa Nusantara). Maka diaturlah pernikahan tersebut. tapi ternyata Gajahmada berpikiran lain...
    Pada hari yang ditentukan tibalah rombongan Sunda ke majapahit, dengan senjata secukupnya, dan rombongan yang kecil. (Iayalh orang mo kimpoian, masa bawa pasukan lengkap sama catapult). Pas sampe di lapangan bubat, ternyata Gajahmada sudah menunggu dengan pasukannya. Gajah mada mengultimatum, rombongan sunda boleh masuk majapahit asal mengakui sunda sebagai bagian dari Majapahit (vassal state). Raja sunda tentunya merasa tersinggung dan terluka harga dirinya, begitu juga dengan seluruh pasukannya, bahkan permaisuri dan Dyah Pitaloka sendiri (wong niat dateng baek2 mo ngawinin anaknya kok malah disuruh takluk, males banget kali yee). Maka mereka dengan tegas menolak. Gajah mada menyerang (disini ada kontroversi,ada yg bilang pasukan sunda menyerang terlebih dahulu). Dan tumpaslah seluruh pasukan Sunda, termasuk sang permaisuri yang dengan gagah berjuang disisi suaminya dengan sebilah keris kecil (cundrik, keris untuk wanita) dan Dyah Pitaloka yang bunuh diri, menolak untuk menyerah kepada majapahit.
    ini mungkin blunder terbesar dan satu2nya yang pernah dibuat Gajahmada. Setelah kejadian ini Gajahmada diberhentikan (atau minta berhenti, karena dimusuhi oleh keluarga kerajaan) dari jabatannya sebagai Mahapatih, dan kemudian menyepi ke pedesaan.

    Wuihhh panjang ya... ini mungkin kenapa Sejarah perang bubat tidak pernah diajarkan secara jelas di sekolah, karena cukup SARA. Efeknya ternyata berlanjut hingga sekarang. Coba kaskuser yang tinggal di bandung, ada gak jalan Gajahmada ato Hayam Wuruk dibandung ?
    sejak kejadian itu maka kerajaan sunda melarang orang sunda nikah sama orang jawa,juga sebaliknya...

    BalasHapus
  8. airin abdurachman27 Januari 2012 23.47

    Anonim @ kata syapa ga boleh ????? Allah ajah memperbolehkan kok ... knapa manusia ga??? Itu cuma pemikiran kolot ajah, sekarang waktunya kita yang masih muda2 ini menjernihkan pemikiran mereka tentang masalah MITOS yang ga jelas ini, jangan sampe perbedaan suku, jadi alasan untuk tidak bisa bersatu

    BalasHapus
    Balasan
    1. suka bgt ungkapan.y betul sekalii berbedaan antar suku jangan di jadikan alasan untuk tidak bisa bersatu :) dan allah pun mungkin bukan tanpa alasan mengapa menciptakan umat manusia dalam berbeda" budaya gini bukanya karna kita berbeda, kita bisa dapat saling melengkapi dengan perbedaan kita :)

      Hapus
  9. @airin abdurachman, klo orang sunda dapet orang jawa, untung. Tapi klo orang jawa dapet orang sunda, rugi! Contohnya tuh Teh Syahrini, Mulan Jameela, Hepi Salma, Paramitha, Desy Ratnasari mereka ada yg perebut suami orang, suka kawin cere, suka cari sensasi yg ga jelas, rela pindah agama demi harta, coba bandingkan dengan Mba Dian Sastro atau Diana Pungky.

    BalasHapus
    Balasan
    1. -tau dr mana ya? jgn ambil sample sebagian,
      -tuh krisdayanti = ngerebut raul
      -tuh dewi persik = kyk perek dipegang2 susunya
      -tuh trio macan = kampungan
      -tuh inul = dicekal krn nempak aurat sama goyang inulnya
      -soekarno yg dr jawa alias president pertama RI aja tukang kawin, istrinya banyak
      -soeharto aja, korupsi
      -hanung bramantyo = tukang hina agama islam
      -cewek jawa klo saya liat nih yah, klo udh ngedumel itu loh,, harus minta ampun deh
      klo disebutin jg banyak lah yah...
      itu malah ada yg ngaco, sejak kapan syahrini, hepi salma, paramitha, desy R jadi perebut suami orang? kagak ada tuh beritanya..
      emang lo aja sirik sama cewek sunda, karena sunda cantik2.. lo jelek kyk penghuni jahannam.. wkwkwk
      ANJING LO !!

      Hapus
  10. BENAR..cewek sunda emang MATRE..bisanya cuma nuntut,,,males kerja karena rata2 gak SMART!!!pendidikan pas pas an...CATET Nih..ini FAKTA..menyesal ak punya ipar sunda...

    BalasHapus
  11. Maaf bukan menjelekkan suku sunda tp wanitanya gampang untuk putus cinta dan dalam sekejap saja bisa memainkan perasaan krn pengalaman dgn wanita sunda yg mengajak nikah dan memaksa walaupun sdh tau kondisinya harus dipersiapkan dgn baik sebelum menikah. Mereka bisa sekejap beralih ke orang lain jika keinginan mrk tidak tercapai dalam hitungan hari.

    BalasHapus
  12. Saya lebih setuju kalau dikatakan semua tergantung orangnya. Saya orang Jawa, dan beberapa bulan terahir tinggal di tanah Sunda. Menurutku tidak semua orang Jawa, dan tidak semua orang Sunda seperti itu.

    BalasHapus
  13. Gak usah ribut ribut gak jelas deh...
    Gini aja.. gak usah ngurusin kami orang sunda... sana jauhi kami orang sunda.. jangan sekali kali kalian orang jawa deket sama kami orang sunda.. sunda gak mau berbaur sama jawa..

    DAH CUKUP.

    BalasHapus
  14. Kalau menurut saya itu karena perbedaan cara mendidik dan perbedaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan dalam satu keluarga. Kalau perempuan sunda dalam keluarga kedudukannya sama sejajar dengan anak laki-laki sehingga ia punya andil. Beda dengan keluarga jawa yg lebih primordial dimana perempuan jawa yg harus nrimo nrimo aja. Mungkin melihat hal tersebut laki-laki jawa beranggapan perempuan sunda sifatnya dominan. Selain itu hubungan anak dan orang tua dalam keluarga jawa diribetkan dengan tata krama dan adat istiadat yg kental kalau dalam keluarga sunda nggak terlalu ribet gitu (udah lebih modern) Mengenai larangan-larangan nikah seperti itu, orangtua sunda biasanya menyarankan anak laki-lakinya nggak memilih pasangan perempuan jawa. Kalau saran untuk anak perempuan biasanya supaya memilih pasangan yg mapan.

    BalasHapus
  15. Setuju.,.,.,.,.,
    Kalo suku jawa ngerasa tertindas menikahi orang sunda, kami pun juga demikian. Kepada orang Jawa boleh nikahi suku mana saja terserah asal jangan suku kami (SUNDA).

    BalasHapus
  16. GADIS SUNDA ITU BISA APA SELAIN BERSOLEK??????

    BalasHapus
  17. Kq jd SARA gini y

    BalasHapus
  18. keren deh pemikirannya....

    tapi semua tergantung individu...
    buat si anonim, ga usah kayak gitu juga kali.. semua orang sudah memiliki argumen masing-masing. kalau benci kami orang jawa, ya tidak usah seperti itu...

    BalasHapus
  19. Yan penting rasanyaaaaa......

    BalasHapus
  20. Saya Widi Nugroho berpendapat bahwa salah kalau kalian mengira orang sunda berlaku seperti itu, saya org jawa pun sering melihat kasus yang sama untuk perempuan jawa. Bahkan selama saya kuliah di ITB dulu saya banyak memiliki teman dari berbagai suku termasuk teman dari suku sunda. Justru saya kagum dengan teman dari suku sunda itu, selain baik hati juga peduli orangnya. So jangan hanya melihat sifat seseorang yg kebetulan kita tdk cocok kemudian menyamakan mereka semua atas nama suku. Kita adalah sama, putra - putri bangsa Indonesia yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. untuk itu kita harus bersatu padu utuk saling melengkapi, saling membantu, saling mengasihi dan mencintai, karena kita ditakdirkan untuk selalu bersama dlm suka dan duka. I love Sundanese and all ethnics in Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm.. saya stuju bener semua balik ke individu masing2. tapi guys, ada bara ya ada apinya. knp hal ini bisa jadi mitos toh karena ada orang2 (lebih dari satu) yang ngalaminnya. bukannya?

      mungkin ini memang keadilan dari Tuhan, wanita sunda dianugerahi kulit putih bersih, wajah cantik pandai berdandan, dan eye catching. tapi krn gak sempurna yaa lw musti bisa terima sisi adilnya yaa sifatnya yg malas, gak cekatan, gak nerimo dll.

      sama halnya dgn wanita jawa, gak semenarik tampilan wanita sunda, tapi sisi adilnya yaa sifatnya yg rajin, nerimo, bisa diajak susah dll.

      bukan bermaksud rasis, tapi apa lw bisa menampik. klo sifat2 mereka itu udah turun menurun, mungkin aja krn ada faktor2 lain seperti geografis dsb.

      nah tinggal milih tuh, kan udah ada takarannya. klo udah ada templatenya gitu kita gak usah muluk2 deh minta pasangan sunda/jawa kita itu sperti apa yg kita mau. no body perfects guys. just decide. :)

      Hapus